Showing posts with label rindu. Show all posts

LUKA

Lihatlah dirimu.
Penuh luka dan terkulai membisu.
Apa mungkin seseorang mengambil hatimu lagi, dan lalu pergi begitu saja?
Kau tak pernah mau menjawabnya.
Apakah harus aku katakan jika seseorang lain juga menunggumu?
Kau pun juga tak peduli tentang itu.
17 Dec 2016
Posted by Unknown

TERSENYUMLAH

Lihat bulan malam ini
Hampir sempurna,
Malam di sini amat dingin,
Hanya terdengar jangkrik bersautan.

Selagi kamu melihat bulan,
Aku mencuri pandang,
Warna matamu, hitam kecoklatan.
Agak kabur memang, tapi aku yakin bukan hijau kebiruan

Seperti itu, kamu masih bisu, sedari tadi
Aku bicara panjang lebar,
Tapi kamu seperti pendengar setia yang pikirannya melayang pergi
Tertiup angin

Pandanganmu kosong
Matamu menyipit
Seperti menahan berton-ton air mata yang ingin keluar

Aku mengerti
Bahuku akan selalu ada untukmu
Akan selalu menjadi tempat ternyamanmu
Menangisi dia yang berulang kali menjatuhkan janjinya

Aku akan selalu ada di sini
Mengusap gelontoran air matamu
Mendengarkanmu
Menyemangatimu

Hembusan  karbondioksida mu mulai tak beraturan
Bendungan matamu tak bisa menahannya lagi
Membasahi bajuku
Di bagian bahu..
Semakin deras
Kemudian terisak


Kamu menangis lagi.






Aku mohon, tersenyumlah, aku tak tahan melihatnya.





Dea Yusuf
Sumberjaya, 13 May 2016


CUKUP KAMU DISITU

Maaf aku tak sengaja merindukanmu
Senandung lagu itu yang mengingatkannya
Mengalun, terputar begitu saja pada playlistku.

Ingat pertemuan pertama kita?
Hanya itu memori yang tidak bisa aku lupakan
Serapat mungkin aku menutupnya agar kamu tidak tahu.
Padahal, dada ini masih bergetar bila melihatmu
Hanya saja aku mengabaikannya, agar tidak terlalu tumbuh subur

Sampai malam ini,
Aku ingin bertemu kamu
Rasanya berbicara denganmu adalah obat penatku

Kemudian kesempatan bertemu itu pun datang
Aku berusaha mati-matian agar tak tertarik
Meyakinkan diriku, ini hanya pertemuan biasa
Tapi, apa daya, melihat sosokmu saja cukup membuat aku terpukau
Dan itu cukup membuatku tak bisa tidur semalaman

Tapi
Aku takut,
Takut jatuh kembali,
Aku capek jika harus menyusun kembali pecahan-pecahan hati ini.
Sudah hampir patah, bahkan bagian sisi hilang entah kemana.

Meski aku tahu,
Aku bukanlah seseorang yang kamu inginkan dalam hidupmu
Aku jauh dari itu,

Cukup kamu disitu,
Membiarkan aku mengagumi kamu
Membiarkan aku terpesona dengan senyummu
Aku sudah bahagia dengan itu.
Meskipun aku perlahan hampir sekarat menahan rindu ini.
Dan tolong jangan bersimpati,
Karena aku takut ini akan sia-sia jika itu terjadi.






Dea Yusuf

Sumberjaya, 2 May 2016

SEBAIT PUISI

Bertemu sekali saja,
Itu sudah cukup untukku.
Bertatap muka sekejap saja,
Itu akan membuatku mengerti.
Tak berlu berbicara,
Hanya goresan lengkung di bibirmu,
Sudah cukup berarti, berarti sekali

Kamu adalah sebuah keindahan.
Sebuah sajak yang sulit kutulis
Sebuah karya yang tak terlukis.
Aku mengerti jika kemudian kamu pergi.
Tanpa menoleh lagi.
Meski aku tahu terkadang kamu melirik.
Memastikan aku baik-baik saja.
Memastikan hatimu tak terkilir lagi.

Mencinta seperih ini,
Merindu sekeras ini,
Kita hanya terpisah oleh sebait puisi
Yang sajaknya canggung untuk disuarakan.
Sehingga tak pernah selesai diciptakan.






Dea Yusuf,

Sumberjaya, 2 May 2016

SAMPAI KAPAN?

Hujan di sore hari..
Selalu saja menyisakan memori
Entah perasaaan bahagia, sedih, ataupun luka
Ketahuilah, Hujan tidak pernah mengeluh meski ia berkali-kali jatuh
Ia rela melakukannya untuk memberikan cintanya pada Bumi.

Mengairi sawah, memberi minum para ternak, menyuburkan tanaman, memberi habitat kehidupan pada makhluk air,
Indah sekali bukan?

Lalu kemudian dari cinta sang hujan,
Bumi memberikan bunga-bunga indah dari tanahnya,
seolah balasan dari cinta sang hujan, “ini untukmu”


Lalu Kamu?
Cinta seperti apa yang kamu punya?
Berharap orang yang kamu cintai membalas cintamu.
Kalau dia merasakan hal yang sama mungkin itu tak jadi masalah.
Jikalau dia merasakan sebaliknya, lalu kamu mau apa?
Mencintai juga berarti mengambil resiko untuk tak dicintai.

Cinta tak bisa dipaksakan!
Dia memiih bukan dipilih.
Memaksakan sama saja melihat diri sendiri hancur berkeping-keping.
Dan seterusnya, kamu berharap, berharap, dan berharap.
Berusaha menembus hatinya yang sekeras baja agar berlubang.

Sampai kapan!?
Sampai matamu lelah mengeja barisan keangkuhan hatinya dan bergelut dengan kesabaranmu sendiri?
Mungkin jika itu batu bisa kau lubangi dengan tetesan air,
Walaupun memakan waktu ratusan tahun.
Tapi, jika itu baja!?
Ia hanya akan berkarat lalu rusak tak berguna lagi.

Hakikat mencintai adalah memberi tanpa pamrih, tanpa alasan, tanpa ingin dibalas.
Kamu sama saja egois, jika mengharapkan orang yang tidak mencintaimu melakukan hal yang sama kepadamu.

Lihat, kan, hujan sore tadi?
Dia tidak meminta balasan apa-apa.
Tapi kemudian sang bunga yang kau tanam beberapa bulan lalu memekarkan bunganya.

Cinta itu memberi tanpa berpamrih.
Cintailah seseorang yang menginginkanmu,
Yang berharap bisa menjalani sisa hidupnya bersamamu,
Yang mau membantu mewujudkan cita-citamu,
Yang berbicara denganmu setelah pertengkaran,
Yang mampu merubah mood jelekmu setelah kamu memiliki hari yang buruk
Yang meluangkan waktu sibuknya hanya untuk berkabar denganmu.
Lalu tertawa pada leluconmu yang sama sekali tak lucu, karena dia bahagia hanya dengan mendengarmu berbicara


Cinta itu saling menghargai dan saling ingin memiliki.
Dan aku, cukup bahagia dengan mencintaimu.


Dea yusuf,
Sumberjaya, 25 April 2016

Fabula

Menyenangkan sekali.
Aku tidak pernah lupa bagaimana senyuman manismu dulu pernah membekukan waktuku.
Aku tidak pernah lupa bagaimana tingkah lucumu yang polos . gemas sekali.
tapi semua harus terhenti saat kejenuhan melanda sebuah hubungan.

aku jenuh sejenuh jenuhnya, mengingatmu saja terkadang membuatku sakit kepala.
Perasaan ingin bebas dan menghindar itu sangat kuat sekali.
tetapi aku tidak pernah menceritakan ini padamu, aku takut kamu sakit hati.
senyum ini terkadang palsu.

Aku tidak benar-benar menyukaimu, sedari dulu aku memang tidak sepenuh hati.
dari situ kadang ceritamu jadi terdengar membosankan. candaanmu pun terasa garing.
entah apa yang salah dengan aku, atau kamu.

sampai suatu hari, aku memutuskan untuk menceritakan ini semua padamu.
aku tak ingin menyimpan ini sendirian.
aku mulai dengan basa basi, tersenyum sedikit, lalu aku menceritakannya padamu.
"Aku mau kita putus"
tak kusangka aku mampu mengatakannya, lirih sekali aku tak sanggup menatap matamu.
pelan, namun aku yakin itu bisa mengguncang seluruh hatimu.

lalu kemudian reaksi selanjutnya membuatku terkejut.
aku tak menyangka kau akan tersenyum.
"baiklah, terimakasih sudah ada di hidupku"
kemudian kau pun beranjak pergi.

Beberapa waktu memang aku pikir keputusan ini tepat berpisah denganmu.
sampai kemudian aku mulai merindukanmu.
aku tanyakan apa kabarmu,
Kau menjawab ala kadarnya
percakapan Via pesan singkat itu pun berlangsung singkat dan hambar.

Aku mulai merutuki diri sendiri, betapa bodohnya melepas wanita sepertimu
kenapa rasa itu datang justru setelah kamu pergi?
sudah percuma, nasi sudah menjadi bubur, pepatah usang terngiang-ngiang di kepalaku

dan kini sebuah undangan terselip di bawah pintu masuk rumahku.
aku tersenyum melihat nama yang tertera disana.
ada namamu, dan tentu saja calon suamimu.
aku menyimpannya di atas meja ruang tamu.
'mungkin terjatuh' pikirku
aku masih belum selesai  mengurus kelengkapan suratnya.

maafkan aku soal dahulu, aku berjanji, itu terakhir kali aku membuatmu sakit hati.
dan nanti aku akan menjagamu sampai mati, calon istriku.



oleh : Dhea X. Near
12 Januari 2016

PAIN

Is like scrapping past wound.
When everything has done.

I just looking back, and i found some picture.
i shouldn't saw that.
and then i thrown to the past when the sunshine still smiling at me.
When the rainbow still has many colors.

i'm standing here.
in the blue of sky.
and rain wash my pain.

Dear Sunshine would you give me some chance?
To take some pieces of yours, and turn it blue again.

Rain.
i let you go.
there is some secret that i don't tell.
but love is always whispering.

No, i can't forget.
when i had you there
and then i let you go.

and now i'm standing here among the despair.
and hope to the rain to wash all my pain.


Dea Yusuf
Jakarta, 11 Desember 2014

Adakah Kamu Mengerti?

Ketika itu..
Aku melihat sesuatu di matamu.
Ada kisah terlukis seperti sudah lalu, sekilas, ya hanya sekilas.
Aku percaya pada takdir,
Entah dengan mu atau tidak, semua ada cara dimana kita akan bersatu atau terpisah.


Kamu bilang, semoga Tuhan menakdirkan nisan kita berdekatan.
Aku terenyuh, Aku begitu sangat menanti saat-saat dimana kita dipersatukan.
Saat kita membuat kembali kesepakatan seumur hidup.
Merajut sebuah mimpi yang bahkan kita masih belum rangkai.
Menerka-nerka hal menyenangkan apa yang akan kita lakukan nanti.

Namun,
Saat perpisahan menghalangi jalan kita.
Dan kemudian di persimpangan itu kita berpisah.
Bersabarlah cintaku.
Mungkin akan terasa sakit, tapi aku yakin pasti sesuatu lebih indah ada di depan kita.

Jika suatu hari ku temukan kamu dengan seseorang,
Ahh.. betapa beruntungnya dia.
Aku bahagia bisa mengenal dan punya cerita bersamamu.

Adakah kamu mengerti?




Dhea x. Near
14 Agustus 2014


Kita yang Terlupakan.

Hingga kita tiba pada saat dimana semua berubah.
Orang-orang tak lagi sama.
Wajah mereka berubah,
Hati mereka berubah.

Lalu perlahan kita terlupakan,
Terlupakan masa lalu,
Terlupakan keakraban,
Semua kembali bisu,
Tak ada cerita setelah itu.
Seolah tak pernah berjabat tangan sebelumnya lalu saling menyebutkan nama.

Kenakalan dan candaan tidak lucu yang sering terlontar.
Perlahan menguning karena korosi di atas buku cerita.
Sering kali aku melihatnya digerogoti tikus kecil yang membuat sarang di rumahku.

Semua berdebu, terlalu lama beku.
Terlalu lama dibiarkan, hingga tak tahu harus diapakan.
Bisa saja mati rasa, seperti kesemutan.
Lalu kemudian menyakitkan.

Dan kita kembali mencari sesuatu yang harus kita ingat.
Mencari mereka yang tak pernah terlupakan.
Mencari mereka yang tidak akan lupa saat pertama berjabat tangan dan saling menyebutkan nama.
Mencari mereka yang mengingat siapa kita dan alasan kita untuk tetap pada jalur seharusnya.
Dan kemudian tak akan terlupakan.




27 Januari 2014
Dhea X. Near

JIKA SAJA

Kamu.
Jika saja mampu ku ucapkan.
Sepandai para pejabat di istana sana.
Tapi sayang sekali, aku bukan mereka.

Kamu.
Duniaku terisi jutaan perasaan yang aku sendiri tak tahu.

Kamu.
Jika saja mampu aku menawar tangismu dengan suara indah dan lantunan syair seperti para pujangga itu, tapi sayang sekali, aku bukan mereka. Aku hanya punya pundak ini. pundak yang selalu berharap bisa sedikit menyembunyikan wajahmu saat menangis, karena pasti kau tak mau aku melihatnya.

Kamu.
Sedikit kata dalam ucapku.
Tapi begitu banyak rindu dalam hatiku.
Dapatkah kau rasakan?
Tolong rasakan sebentar saja.
Aku ingin kamu tahu.
Setelah itu terserah padamu.

Kamu.
Jika saja itu kamu.

24 Dec 2013
Posted by Unknown

Hingga Saat Itu

Darahku mengalir deras di nadiku. Mengalir lembut memenuhi relung urat sarafku.
Adinda, pernahkah kau merasakan Cinta?
Sejuta makna yang memeluk indah jiwa, hingga seribu rasa menyatu dalam hati.
Sejuta perasaan yang bercampur aduk dalam raga, menyatu hingga menimbulkan sejuta pelangi dalam hati

Adinda, pernahkah kau merasakan sakit hati?
Saat dimana kehilangan seseorang yang kau sayangi.
Saat seseorang yang sangat dekat denganmu berbalik meninggalkanmu.
Seribu perasaan bingung, marah, takut, kecewa, dan entah apalagi berubah menusuk ke relung hati.

Cinta selalu menyediakan cerita yang berlawanan.
Ada senang tentu ada sedih.
Ada cemburu dan ada rasa dihargai
Ada cinta ada juga benci
Ada kehilangan tentu ada yang beruntung telah mendapatkan seseorang.
Begitupun cinta kita, Adinda.
Berjuta rasa penuh makna, beradu dalam hati kita.
Menimbulkan rona merah muda yang menampakan keindahan.

Tapi Adinda…

Akankah rasa ini memuai?
Menguap bagai embun yang menempel pada kaca?
Hingga kita berdua menyalahkan waktu atau jarak yang memisahkan kita?
Semoga saja cinta kita lebih kuat dari sekedar  embun yang menempel pada kaca dipagi hari
Dari hanya sekedar jarak yang seharusnya tak perlu jadi celah permasalahan kita.

Adinda..

Terkadang waktupun begitu iri dengan kuatnya cinta kita.
Terkadang ia memberikan seseorang diantara celah kejenuhan kita.
Terkadang ia memberikan keraguan diantara celah keyakinan kita.

Apakah KAU akan bertahan, Adinda?

Apakah AKU akan bertahan, Adinda?

Sehingga cerita-cerita biasa tentang berjuta pasangan yang memutuskan mengakhiri cinta mereka
Akan terjadi pada kita?

Ohh mungkinkah suratan takdir kita berbeda Adinda?
Sehingga namaku hanya akan menjadi nama yang pernah kau kenal dahulu.
Sehingga namamu hanya akan menjadi cerita dikehidupan masa mudaku?
Semoga saja ini akan bertahan, Adinda.
Sekuat hatiku bisa bertahan,
Sekuat hatimu dan ketulusanmu.

Menarik, bukan?

Apakah kita akan berjudi dengan waktu?
Mempertaruhkan  nama kita dan memastikan apakah takdir kita sama?
Apakah perlu?
Ataukah kita hanya perlu menunggu, Adinda?

Lagi-lagi kita berjudi dengan waktu menunggu dia memutarkan bagian yang kita tunggu.
Memilihkan bagian takdir yang terbaik untuk kita berdua.
Menaruh harapan dan impian padanya.

Adinda, sudahlah, dunia tak abadi.
Ilalang tak akan pernah menjadi pohon yang rindang.
Semua berjalan seperti yang dituliskan-Nya.
Kita tak perlu berjudi dengan waktu atau siapapun.
Yang kita perlukan adalah keikhlasan dan kepasrahan pada-Nya.



Hingga saat itu tiba, aku akan menemanimu menemui takdirnya.

Selama Kau Mau

Senandung nada-nada jiwa.
Dawai merdu lantunan suara hati.
Mengalun bagai pesona ritme lagu menyambut mentari saat fajar tiba.
Aku terpesona bagai anak kecil tersihir oleh manik-manik berwarna-warni pelangi.
Sentuhannya tepat mengenai hati.
Aku tak kuasa tiba-tiba rindu menguasai alur nada hidupku.
Mengisinya dengan jutaan senyum penuh bahagia.
Walau sayup terdengar lolongan kesakitan dari lubuk jiwa.
Saat sela hatiku penuh dengan remah kisah lalu.
Ini aku, kau genggam seluruh hatiku dengan cinta berwarna ungu sehabis luka semalam.
Bertabur rindu yang kadang terlalu basi untuk sering di ucapkan.
Beraroma sama tapi selalu membuat candu.
Lagi-lagi rindu.
Semoga waktu berbaik hati mempertemukan kita.
Diatas janji suci bertabur restu sehidup semati.
Seperti langit dengan birunya.
Seperti pohon dengan tanahnya.
Seperti hujan dengan dinginnya.
Selama kau mau, kita akan bersama.
Selama kau mau, sebisa mungkin aku akan ada untuk kamu.
Sampai kemudian aku menggoreskan bait terakhir ini.
Rinduku masih menuju pada kasihmu.


DHEA X. NEAR
Jakarta, 20 November 2013
11.41 a.m
20 Nov 2013
Posted by Unknown

Entah

Hati ini begitu gelisah..
Gelisah jika ingat kamu..
Gelisah saat aku memimpikan kamu tadi malam..
Terlalu lama aku menyimpannya di hati.
Entah kenapa hanya kamu yang tidak bisa aku ceritakan tentang isinya.
Apa aku terlalu kaku?
Apa aku terlalu takut?
Apa aku terlalu pengecut untuk hanya sekedar menceritakan nya dan berterus terang soal ini?
Masihkah mungkin dirimu berkenan menerima hatiku?
Wajahmu yang selalu saja mengisi hatiku di lorong gelap yang selalu aku tutupi.
Tapi tetap saja perasaan itu tak tahu diri, dan tiba-tiba keluar saat mimpi bertemu kamu.
Entah hati ini memberikanmu tempat seluas apa hingga kamu tak bisa aku lupakan.
Tapi sudahlah, biar waktu dan hatiku yang menyimpannya..
Aku tak mau tahu.

DEALOVA.


9 Sept 2013
Posted by Unknown

Kamu, jangan pergi!

Entah bagaimana aku harus mengatakannya.
Selalu saja secara tiba-tiba mulutku kaku, pikiranku tiba-tiba hilang.
Kata-kata yang sudah secara utuh aku rangkai, selalu berantakan dan hilang begitu saja.
Mengapa hanya kamu yang bisa?
Mengapa hanya tubuhku saja yang tiba-tiba bergerak secara refleks tak beraturan saat kau menatapku dan aku menjatuhkan beberapa buku yang sudah  kususun rapih di atas meja?
Lalu kau hanya tersenyum, senyuman paling manis yang bisa membuat waktu pun ikut berhenti total dalam beberapa mili detik.
Dan hilang berlalu begitu saja.
Lalu mengapa hanya kamu yang bisa membuat cuaca yang cerah bahkan panas terik sekali tiba-tiba mendung lalu gerimis dalam seketika, saat aku tahu kalau kamu ga masuk hari ini?
Kamu sakit? Sakit apa? Lalu apa yang harus aku lakukan? Aku harus gimana?
Hujan semakin deras, padahal aku tahu di luar sana matahari menyengat para pejalan kaki.
Seminggu sudah kamu ga nampakan diri.
Kamu kemana? Begitu parah kah sakitnya? Aku harus gimana?
Sebulan. Kamu kemana? Apa kamu udah baikan? Apa kabarnya?
Aku ga pernah liat kamu lagi.
Sudah menggunung rasa rindu ini.
Harus aku kemanakan?
Kamu ga pernah muncul lagi. Kamu pergi?
Jangan pergi!
Kalau kamu pergi siapa yang akan senyum sama aku tiap pagi?
Harus aku kemanain rindu yang udah aku tahan sebulan lebih?
Kalau kamu pergi kamu ga akan tahu ada orang yang tiap hari merhatiin kamu.
Kalo kamu pergi, kamu ga akan tahu ada orang yang selalu ingin mengatakan kalo senyum kamu mampu buat aku mati rasa.
Kalau kamu pergi kamu ga akan tahu betapa berartinya kamu bagi aku.
Kalau kamu pergi kamu ga akan pernah tahu nama orang itu.
Jadi, jangan pergi!
Hujan turun deras sekali. Mataharinya hilang di telan bumi.



Bolehkah aku bertanya?

Sehangat cinta dalam pelukmu.
Sebening rindu yang engkau tawarkan.
Jika saja aku boleh bertanya.
Apakah aku layak untukmu?
Jika cinta saja tak cukup, bolehkah aku menawarkan kasih sayang seumur hidupku untukmu? Ya! Hanya untukmu.
Jika itu juga belum cukup. Aku tak punya apa-apa lagi.


7 Sept 2013
Posted by Unknown

Rindu



Ini bukan Lelah..
Perasaan merana yang hanya dirasa oleh diri sendiri.
Rasakan!
Baru kau tahu kan apa rasanya?
Rona wajah berkelebat bergantian.
Tak tertarik kah kau membungkusnya?
Satu persatu rautnya berkelebat.
Jangankan menyapa, menolehpun tidak.
Jangankan memeluk, tersenyum pun tidak.
Tapi mengapa aku sangat suka sekali duduk disini.
Hiruk pikuk jalanan tak pernah peduli.
Kau tetap saja sendiri kesepian ditemani corong lampu taman yang selalu ada di sana.
Di taman kesukaran, yang halamannya penuh dengan sampah kenangan.
Menanti malam menyapa.
Berharap ada seseorang yang memberitahu apa sebenarnya tempat ini.
Lalu, angin membisik, membuat bulu roma berdiri.
Dan malam pun datang memberi tahu.
Tempat ini adalah Rindu.
Dimana kenangan dan harapan menyatu.
Dimana kasih dan benci samar sekali dibedakan.
Dimana seolah-olah kau hidup tapi sekaligus mati.
Senyum dan sedih yang bergantian menghiasi wajah.
Kau tetap seperti itu sampai kau lepas dari rindu.
Menyakitkan sekali jika kau Rindu dan tak seorangpun menemani rindumu.
Akhirnya aku terus berjalan, berharap menemukan tempat untuk beberapa sajak yang ku tulis. Karena rindu ini tak punya teman.



Nafas

Belahan Jiwa, dengar kan ini, mungkin harapan ini berharap sangat tinggi,
Indah membayang di kelopak mata.
Sejuta rasa membuncah menggelora dalam dada.
Namamu kusebut ribuan kali dalam diam ku.
Sedetik waktu, Seribu tahun ku rasakan.
Aku ingin berterus terang,
Aku inginkan kamu.

Ketika surya membelah kegelapan.
Angin-angin berarak menyongsong fajar pagi.
Takdir waktu semoga saja.
Dulu, takdir itu yang mempertemukan kita.
Dan aku mencoba melihat kedalam hatimu,
Mencoba merasakan getaran cinta yang sempat aku rasakan dalam diammu.
Mencoba menebak isi hatimu yang sempat berkelebat dalam khayalku
Desiran darah ini penuh dengan aroma cinta,
Tak terasa embun mulai menetes di ujung dedaunan
Sebening mata yang kamu punya.
Sesegar Cinta yang kamu tawarkan.

Seandainya aku bisa menahan waktu.
Ingin kudekap erat.
Tak ingin lepaskan ikatan ini.
Senja berubah rona.
Kelabu, hitam, pekat, gelap.
Namun cintaku hanya kamu.





Dalam diamku,
Aku Cinta padamu.

Dhea X. Near
31 Oktober 2012
"Happy 6 Month, Irenia"
31 Oct 2012
Posted by Unknown

Di Batas Senja


Lembayung di Batas senja
Ribuan penyokong langit mulai memudar warnanya
Burung-burung melandai kembali menuju sarang yang biasa
Para petani berkemas hendak pulang ke rumah mereka

Aku pun hendak menepi
Menepi dari segala kepahitan ini
Menepi dari segala kesusahan ini
Menuju dermaga yang dipenuhi tulisan-tulisan semrawut di dindingnya
Dan berakhir di Lembah hati yang dipenuhi dengan Anggrek Bulan atau semacamnya

Memori ini begitu panjang bagiku
Hingga ribuan asa tak juga  binasa
Dirimu telah berkubang memenuhi takdirnya di hatiku
dipenuhi lumpur cinta dan asmara yang pekat mewarna

Sampailah pada suatu senja
Aku menatapnya, sampai sang raja hari hilang dan mengucapkan salam perpisahan
Takdir siapa yang tahu?
Mungkin saja esok mataku buta dan tak dapat melihatnya lagi
mungkin saja esok Matahari tak terbit lagi
atau..
mungkin saja esok aku.... MATI!!!


Dhea X. Near,
27 november 2011
30 Oct 2012
Posted by Unknown

ANDROMEDA


Dan akhirnya hujan pun reda
Aku masih terpaku di sudut kesendirian ku
Menikmati percikan air yang turun setetes demi setetes dari atap

Angin malam menyelimuti ku
Menyusupkan dingin ke sela-sela kulitku
Masih Aku terbayang wajahmu
Kurindukan seberkas senyum di bibirmu
Senyuman yang hampir beku dimakan waktu
Memuntahkan memori kenangan dalam bejana cinta

Masihkah engkau melihat langit malam?
Bercerita tentang bintang-bintang kecil di atas sana?
Selalu Aku berkata "Bintang-bintang itu terlalu besar untuk kau sebut 'kecil'"
Tapi, kau tak pernah mendengarkannya
Malah kau asyik menyebutkan satu persatu galaksi yang kau hafal
Lalu bernyanyi kecil, hingga kau lupa kau sudah terlelap di bahuku

Masihkah kau ingat saat kau berkata
"Seandainya kau jauh setidaknya kabari aku"
saat itu Aku benar-benar berjanji
Kalau Aku tak akan pernah 'jauh' darimu
Tak akan pernah!

Apakah janji itu masih kau butuhkan saat ini?
Saat dimana kita sudah tak lagi saling berkata?
Saat dimana kita tak pernah tahu satu sama lain?
Saat dimana Aku tak tahu dimana kau sekarang?

Aku mencoba mencari jejak cinta kita dimasa lalu
Merangkai dan menyusunnya kembali dalam Puzzle yang tak pernah kita selesaikan
Dan Aku menaruhnya kembali di lorong hati yang paling gelap

Hujan kembali turun.
Mengaburkan bayangan wajahmu pada air yang tergenang
Mengembalikan Aku pada sudut keremangan ini
Menerobos gelap dan hujan yang sudah semakin deras
Aku tak tahu kemana Aku melangkah
Yang Aku tahu, Aku hanya ingin berlari.
Yang Aku tahu, Aku hanya ingin pergi.














Dhea X. Near

19 Januari 2012

Dhea X. Near

Dhea X. Near
Me

About Me

Gue Dhea,Pecinta sajak, Penyuka Dream Theater, Fans Manchester City, seorang konsultan komputer, calon penulis berbakat, seorang calon bisnisman, calon ayah yang baik, dan calon profesor. (aaaamiinn) :D

Followers

Katakan saja!

Contact Me:

Email: dheax.near@gmail.com
Email 2 : big.trouble.generation@gmail.com
Twitter : @dheaxnear
Facebook : Dhea X. Near

Popular Post

Dea Yusuf. Powered by Blogger.

ups

No Copy

- Copyright © Duniaku, Duniamu, Dunia kita - Metrominimalist - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -