Showing posts with label rindu. Show all posts
LUKA
Lihatlah dirimu.
Penuh luka dan terkulai membisu.
Apa mungkin seseorang mengambil hatimu lagi, dan lalu pergi begitu saja?
Kau tak pernah mau menjawabnya.
Apakah harus aku katakan jika seseorang lain juga menunggumu?
Apakah harus aku katakan jika seseorang lain juga menunggumu?
Kau pun juga tak peduli tentang itu.
TERSENYUMLAH
Lihat bulan malam ini
Hampir sempurna,
Malam di sini amat dingin,
Hanya terdengar jangkrik bersautan.
Selagi kamu melihat bulan,
Aku mencuri pandang,
Warna matamu, hitam kecoklatan.
Agak kabur memang, tapi aku yakin bukan hijau kebiruan
Seperti itu, kamu masih bisu, sedari tadi
Aku bicara panjang lebar,
Tapi kamu seperti pendengar setia yang pikirannya melayang
pergi
Tertiup angin
Pandanganmu kosong
Matamu menyipit
Seperti menahan berton-ton air mata yang ingin keluar
Aku mengerti
Bahuku akan selalu ada untukmu
Akan selalu menjadi tempat ternyamanmu
Menangisi dia yang berulang kali menjatuhkan janjinya
Aku akan selalu ada di sini
Mengusap gelontoran air matamu
Mendengarkanmu
Menyemangatimu
Hembusan karbondioksida mu mulai tak beraturan
Bendungan matamu tak bisa menahannya lagi
Membasahi bajuku
Di bagian bahu..
Semakin deras
Kemudian terisak
Kamu menangis lagi.
Aku mohon, tersenyumlah, aku tak tahan melihatnya.
Dea Yusuf
Sumberjaya, 13 May 2016
CUKUP KAMU DISITU
Maaf
aku tak sengaja merindukanmu
Senandung
lagu itu yang mengingatkannya
Mengalun,
terputar begitu saja pada playlistku.
Ingat
pertemuan pertama kita?
Hanya
itu memori yang tidak bisa aku lupakan
Serapat
mungkin aku menutupnya agar kamu tidak tahu.
Padahal,
dada ini masih bergetar bila melihatmu
Hanya
saja aku mengabaikannya, agar tidak terlalu tumbuh subur
Sampai
malam ini,
Aku
ingin bertemu kamu
Rasanya
berbicara denganmu adalah obat penatku
Kemudian
kesempatan bertemu itu pun datang
Aku
berusaha mati-matian agar tak tertarik
Meyakinkan
diriku, ini hanya pertemuan biasa
Tapi,
apa daya, melihat sosokmu saja cukup membuat aku terpukau
Dan
itu cukup membuatku tak bisa tidur semalaman
Tapi
Aku
takut,
Takut
jatuh kembali,
Aku
capek jika harus menyusun kembali pecahan-pecahan hati ini.
Sudah
hampir patah, bahkan bagian sisi hilang entah kemana.
Meski
aku tahu,
Aku
bukanlah seseorang yang kamu inginkan dalam hidupmu
Aku
jauh dari itu,
Cukup
kamu disitu,
Membiarkan
aku mengagumi kamu
Membiarkan
aku terpesona dengan senyummu
Aku
sudah bahagia dengan itu.
Meskipun
aku perlahan hampir sekarat menahan rindu ini.
Dan
tolong jangan bersimpati,
Karena
aku takut ini akan sia-sia jika itu terjadi.
Dea
Yusuf
Sumberjaya,
2 May 2016
SEBAIT PUISI
Bertemu
sekali saja,
Itu
sudah cukup untukku.
Bertatap
muka sekejap saja,
Itu
akan membuatku mengerti.
Tak
berlu berbicara,
Hanya
goresan lengkung di bibirmu,
Sudah
cukup berarti, berarti sekali
Kamu
adalah sebuah keindahan.
Sebuah
sajak yang sulit kutulis
Sebuah
karya yang tak terlukis.
Aku
mengerti jika kemudian kamu pergi.
Tanpa
menoleh lagi.
Meski
aku tahu terkadang kamu melirik.
Memastikan
aku baik-baik saja.
Memastikan
hatimu tak terkilir lagi.
Mencinta
seperih ini,
Merindu
sekeras ini,
Kita
hanya terpisah oleh sebait puisi
Yang
sajaknya canggung untuk disuarakan.
Sehingga
tak pernah selesai diciptakan.
Dea Yusuf,
Sumberjaya, 2 May 2016
SAMPAI KAPAN?
Hujan
di sore hari..
Selalu
saja menyisakan memori
Entah
perasaaan bahagia, sedih, ataupun luka
Ketahuilah,
Hujan tidak pernah mengeluh meski ia berkali-kali jatuh
Ia
rela melakukannya untuk memberikan cintanya pada Bumi.
Mengairi sawah,
memberi minum para ternak, menyuburkan tanaman, memberi habitat kehidupan pada
makhluk air,
Indah sekali bukan?
Lalu kemudian dari
cinta sang hujan,
Bumi memberikan bunga-bunga
indah dari tanahnya,
seolah balasan dari
cinta sang hujan, “ini untukmu”
Lalu Kamu?
Cinta seperti apa
yang kamu punya?
Berharap orang yang
kamu cintai membalas cintamu.
Kalau dia merasakan
hal yang sama mungkin itu tak jadi masalah.
Jikalau dia merasakan
sebaliknya, lalu kamu mau apa?
Mencintai juga
berarti mengambil resiko untuk tak dicintai.
Cinta tak bisa
dipaksakan!
Dia memiih bukan
dipilih.
Memaksakan sama saja
melihat diri sendiri hancur berkeping-keping.
Dan seterusnya, kamu
berharap, berharap, dan berharap.
Berusaha menembus
hatinya yang sekeras baja agar berlubang.
Sampai kapan!?
Sampai matamu lelah
mengeja barisan keangkuhan hatinya dan bergelut dengan kesabaranmu sendiri?
Mungkin jika itu batu
bisa kau lubangi dengan tetesan air,
Walaupun memakan
waktu ratusan tahun.
Tapi, jika itu baja!?
Ia hanya akan
berkarat lalu rusak tak berguna lagi.
Hakikat mencintai
adalah memberi tanpa pamrih, tanpa alasan, tanpa ingin dibalas.
Kamu sama saja egois,
jika mengharapkan orang yang tidak mencintaimu melakukan hal yang sama
kepadamu.
Lihat, kan, hujan
sore tadi?
Dia tidak meminta
balasan apa-apa.
Tapi kemudian sang
bunga yang kau tanam beberapa bulan lalu memekarkan bunganya.
Cinta itu memberi
tanpa berpamrih.
Cintailah seseorang
yang menginginkanmu,
Yang berharap bisa
menjalani sisa hidupnya bersamamu,
Yang mau membantu
mewujudkan cita-citamu,
Yang berbicara
denganmu setelah pertengkaran,
Yang mampu merubah
mood jelekmu setelah kamu memiliki hari yang buruk
Yang meluangkan waktu
sibuknya hanya untuk berkabar denganmu.
Lalu tertawa pada
leluconmu yang sama sekali tak lucu, karena dia bahagia hanya dengan
mendengarmu berbicara
Cinta
itu saling menghargai dan saling ingin memiliki.
Dan
aku, cukup bahagia dengan mencintaimu.
Dea
yusuf,
Sumberjaya,
25 April 2016
Fabula
Menyenangkan sekali.
Aku tidak pernah lupa bagaimana senyuman manismu dulu pernah membekukan waktuku.
Aku tidak pernah lupa bagaimana tingkah lucumu yang polos . gemas sekali.
tapi semua harus terhenti saat kejenuhan melanda sebuah hubungan.
aku jenuh sejenuh jenuhnya, mengingatmu saja terkadang membuatku sakit kepala.
Perasaan ingin bebas dan menghindar itu sangat kuat sekali.
tetapi aku tidak pernah menceritakan ini padamu, aku takut kamu sakit hati.
senyum ini terkadang palsu.
Aku tidak benar-benar menyukaimu, sedari dulu aku memang tidak sepenuh hati.
dari situ kadang ceritamu jadi terdengar membosankan. candaanmu pun terasa garing.
entah apa yang salah dengan aku, atau kamu.
sampai suatu hari, aku memutuskan untuk menceritakan ini semua padamu.
aku tak ingin menyimpan ini sendirian.
aku mulai dengan basa basi, tersenyum sedikit, lalu aku menceritakannya padamu.
"Aku mau kita putus"
tak kusangka aku mampu mengatakannya, lirih sekali aku tak sanggup menatap matamu.
pelan, namun aku yakin itu bisa mengguncang seluruh hatimu.
lalu kemudian reaksi selanjutnya membuatku terkejut.
aku tak menyangka kau akan tersenyum.
"baiklah, terimakasih sudah ada di hidupku"
kemudian kau pun beranjak pergi.
Beberapa waktu memang aku pikir keputusan ini tepat berpisah denganmu.
sampai kemudian aku mulai merindukanmu.
aku tanyakan apa kabarmu,
Kau menjawab ala kadarnya
percakapan Via pesan singkat itu pun berlangsung singkat dan hambar.
Aku mulai merutuki diri sendiri, betapa bodohnya melepas wanita sepertimu
kenapa rasa itu datang justru setelah kamu pergi?
sudah percuma, nasi sudah menjadi bubur, pepatah usang terngiang-ngiang di kepalaku
dan kini sebuah undangan terselip di bawah pintu masuk rumahku.
aku tersenyum melihat nama yang tertera disana.
ada namamu, dan tentu saja calon suamimu.
aku menyimpannya di atas meja ruang tamu.
'mungkin terjatuh' pikirku
aku masih belum selesai mengurus kelengkapan suratnya.
maafkan aku soal dahulu, aku berjanji, itu terakhir kali aku membuatmu sakit hati.
dan nanti aku akan menjagamu sampai mati, calon istriku.
oleh : Dhea X. Near
12 Januari 2016
Aku tidak pernah lupa bagaimana senyuman manismu dulu pernah membekukan waktuku.
Aku tidak pernah lupa bagaimana tingkah lucumu yang polos . gemas sekali.
tapi semua harus terhenti saat kejenuhan melanda sebuah hubungan.
aku jenuh sejenuh jenuhnya, mengingatmu saja terkadang membuatku sakit kepala.
Perasaan ingin bebas dan menghindar itu sangat kuat sekali.
tetapi aku tidak pernah menceritakan ini padamu, aku takut kamu sakit hati.
senyum ini terkadang palsu.
Aku tidak benar-benar menyukaimu, sedari dulu aku memang tidak sepenuh hati.
dari situ kadang ceritamu jadi terdengar membosankan. candaanmu pun terasa garing.
entah apa yang salah dengan aku, atau kamu.
sampai suatu hari, aku memutuskan untuk menceritakan ini semua padamu.
aku tak ingin menyimpan ini sendirian.
aku mulai dengan basa basi, tersenyum sedikit, lalu aku menceritakannya padamu.
"Aku mau kita putus"
tak kusangka aku mampu mengatakannya, lirih sekali aku tak sanggup menatap matamu.
pelan, namun aku yakin itu bisa mengguncang seluruh hatimu.
lalu kemudian reaksi selanjutnya membuatku terkejut.
aku tak menyangka kau akan tersenyum.
"baiklah, terimakasih sudah ada di hidupku"
kemudian kau pun beranjak pergi.
Beberapa waktu memang aku pikir keputusan ini tepat berpisah denganmu.
sampai kemudian aku mulai merindukanmu.
aku tanyakan apa kabarmu,
Kau menjawab ala kadarnya
percakapan Via pesan singkat itu pun berlangsung singkat dan hambar.
Aku mulai merutuki diri sendiri, betapa bodohnya melepas wanita sepertimu
kenapa rasa itu datang justru setelah kamu pergi?
sudah percuma, nasi sudah menjadi bubur, pepatah usang terngiang-ngiang di kepalaku
dan kini sebuah undangan terselip di bawah pintu masuk rumahku.
aku tersenyum melihat nama yang tertera disana.
ada namamu, dan tentu saja calon suamimu.
aku menyimpannya di atas meja ruang tamu.
'mungkin terjatuh' pikirku
aku masih belum selesai mengurus kelengkapan suratnya.
maafkan aku soal dahulu, aku berjanji, itu terakhir kali aku membuatmu sakit hati.
dan nanti aku akan menjagamu sampai mati, calon istriku.
oleh : Dhea X. Near
12 Januari 2016
12 Jan 2016
Posted by
Unknown
PAIN
Is like scrapping past wound.
When everything has done.
I just looking back, and i found some picture.
i shouldn't saw that.
and then i thrown to the past when the sunshine still smiling at me.
When the rainbow still has many colors.
i'm standing here.
in the blue of sky.
and rain wash my pain.
Dear Sunshine would you give me some chance?
To take some pieces of yours, and turn it blue again.
Rain.
i let you go.
there is some secret that i don't tell.
but love is always whispering.
No, i can't forget.
when i had you there
and then i let you go.
and now i'm standing here among the despair.
and hope to the rain to wash all my pain.
When everything has done.
I just looking back, and i found some picture.
i shouldn't saw that.
and then i thrown to the past when the sunshine still smiling at me.
When the rainbow still has many colors.
i'm standing here.
in the blue of sky.
and rain wash my pain.
Dear Sunshine would you give me some chance?
To take some pieces of yours, and turn it blue again.
Rain.
i let you go.
there is some secret that i don't tell.
but love is always whispering.
No, i can't forget.
when i had you there
and then i let you go.
and now i'm standing here among the despair.
and hope to the rain to wash all my pain.
Dea Yusuf
Jakarta, 11 Desember 2014
Adakah Kamu Mengerti?
Ketika itu..
Aku melihat sesuatu di matamu.
Ada kisah terlukis seperti sudah lalu, sekilas, ya hanya sekilas.
Aku percaya pada takdir,
Entah dengan mu atau tidak, semua ada cara dimana kita akan bersatu atau terpisah.
Kamu bilang, semoga Tuhan menakdirkan nisan kita berdekatan.
Aku terenyuh, Aku begitu sangat menanti saat-saat dimana kita dipersatukan.
Saat kita membuat kembali kesepakatan seumur hidup.
Merajut sebuah mimpi yang bahkan kita masih belum rangkai.
Menerka-nerka hal menyenangkan apa yang akan kita lakukan nanti.
Namun,
Saat perpisahan menghalangi jalan kita.
Dan kemudian di persimpangan itu kita berpisah.
Bersabarlah cintaku.
Mungkin akan terasa sakit, tapi aku yakin pasti sesuatu lebih indah ada di depan kita.
Jika suatu hari ku temukan kamu dengan seseorang,
Ahh.. betapa beruntungnya dia.
Aku bahagia bisa mengenal dan punya cerita bersamamu.
Adakah kamu mengerti?
Dhea x. Near
14 Agustus 2014
Kita yang Terlupakan.
Hingga kita tiba pada saat dimana semua berubah.
Orang-orang tak lagi sama.
Wajah mereka berubah,
Hati mereka berubah.
Lalu perlahan kita terlupakan,
Terlupakan masa lalu,
Terlupakan keakraban,
Semua kembali bisu,
Tak ada cerita setelah itu.
Seolah tak pernah berjabat tangan sebelumnya lalu saling menyebutkan nama.
Kenakalan dan candaan tidak lucu yang sering terlontar.
Perlahan menguning karena korosi di atas buku cerita.
Sering kali aku melihatnya digerogoti tikus kecil yang membuat sarang di rumahku.
Semua berdebu, terlalu lama beku.
Terlalu lama dibiarkan, hingga tak tahu harus diapakan.
Bisa saja mati rasa, seperti kesemutan.
Lalu kemudian menyakitkan.
Dan kita kembali mencari sesuatu yang harus kita ingat.
Mencari mereka yang tak pernah terlupakan.
Mencari mereka yang tidak akan lupa saat pertama berjabat tangan dan saling menyebutkan nama.
Mencari mereka yang mengingat siapa kita dan alasan kita untuk tetap pada jalur seharusnya.
Dan kemudian tak akan terlupakan.
27 Januari 2014
Dhea X. Near
JIKA SAJA
Kamu.
Jika saja mampu ku ucapkan.
Sepandai para pejabat di istana sana.
Tapi sayang sekali, aku bukan mereka.
Kamu.
Duniaku terisi jutaan perasaan yang aku sendiri tak tahu.
Kamu.
Jika saja mampu aku menawar tangismu dengan suara indah dan lantunan syair seperti para pujangga itu, tapi sayang sekali, aku bukan mereka. Aku hanya punya pundak ini. pundak yang selalu berharap bisa sedikit menyembunyikan wajahmu saat menangis, karena pasti kau tak mau aku melihatnya.
Kamu.
Sedikit kata dalam ucapku.
Tapi begitu banyak rindu dalam hatiku.
Dapatkah kau rasakan?
Tolong rasakan sebentar saja.
Aku ingin kamu tahu.
Setelah itu terserah padamu.
Kamu.
Jika saja itu kamu.
Jika saja mampu ku ucapkan.
Sepandai para pejabat di istana sana.
Tapi sayang sekali, aku bukan mereka.
Kamu.
Duniaku terisi jutaan perasaan yang aku sendiri tak tahu.
Kamu.
Jika saja mampu aku menawar tangismu dengan suara indah dan lantunan syair seperti para pujangga itu, tapi sayang sekali, aku bukan mereka. Aku hanya punya pundak ini. pundak yang selalu berharap bisa sedikit menyembunyikan wajahmu saat menangis, karena pasti kau tak mau aku melihatnya.
Kamu.
Sedikit kata dalam ucapku.
Tapi begitu banyak rindu dalam hatiku.
Dapatkah kau rasakan?
Tolong rasakan sebentar saja.
Aku ingin kamu tahu.
Setelah itu terserah padamu.
Kamu.
Jika saja itu kamu.
Hingga Saat Itu
Darahku mengalir deras di nadiku. Mengalir lembut
memenuhi relung urat sarafku.
Adinda, pernahkah kau merasakan Cinta?
Sejuta makna yang memeluk indah jiwa, hingga seribu rasa
menyatu dalam hati.
Sejuta perasaan yang bercampur aduk dalam raga, menyatu hingga
menimbulkan sejuta pelangi dalam hati
Adinda, pernahkah kau merasakan sakit hati?
Saat dimana kehilangan seseorang yang kau sayangi.
Saat seseorang yang sangat dekat denganmu berbalik
meninggalkanmu.
Seribu perasaan bingung, marah, takut, kecewa, dan entah
apalagi berubah menusuk ke relung hati.
Cinta selalu menyediakan cerita yang berlawanan.
Ada senang tentu ada sedih.
Ada cemburu dan ada rasa dihargai
Ada cinta ada juga benci
Ada kehilangan tentu ada yang beruntung telah mendapatkan
seseorang.
Begitupun cinta kita, Adinda.
Berjuta rasa penuh makna, beradu dalam hati kita.
Menimbulkan rona merah muda yang menampakan keindahan.
Tapi Adinda…
Akankah rasa ini memuai?
Menguap bagai embun yang menempel pada kaca?
Hingga kita berdua menyalahkan waktu atau jarak yang
memisahkan kita?
Semoga saja cinta kita lebih kuat dari sekedar embun yang menempel pada kaca dipagi hari
Dari hanya sekedar jarak yang seharusnya tak perlu jadi
celah permasalahan kita.
Adinda..
Terkadang waktupun begitu iri dengan kuatnya cinta kita.
Terkadang ia memberikan seseorang diantara celah
kejenuhan kita.
Terkadang ia memberikan keraguan diantara celah keyakinan
kita.
Apakah KAU akan bertahan, Adinda?
Apakah AKU akan bertahan, Adinda?
Sehingga cerita-cerita biasa tentang berjuta pasangan
yang memutuskan mengakhiri cinta mereka
Akan terjadi pada kita?
Ohh mungkinkah suratan takdir kita berbeda Adinda?
Sehingga namaku hanya akan menjadi nama yang pernah kau
kenal dahulu.
Sehingga namamu hanya akan menjadi cerita dikehidupan
masa mudaku?
Semoga saja ini akan bertahan, Adinda.
Sekuat hatiku bisa bertahan,
Sekuat hatimu dan ketulusanmu.
Menarik, bukan?
Apakah kita akan berjudi dengan waktu?
Mempertaruhkan
nama kita dan memastikan apakah takdir kita sama?
Apakah perlu?
Ataukah kita hanya perlu menunggu, Adinda?
Lagi-lagi kita berjudi dengan waktu menunggu dia
memutarkan bagian yang kita tunggu.
Memilihkan bagian takdir yang terbaik untuk kita berdua.
Menaruh harapan dan impian padanya.
Adinda, sudahlah, dunia tak abadi.
Ilalang tak akan pernah menjadi pohon yang rindang.
Semua berjalan seperti yang dituliskan-Nya.
Kita tak perlu berjudi dengan waktu atau siapapun.
Yang kita perlukan adalah keikhlasan dan kepasrahan
pada-Nya.
Selama Kau Mau
Senandung nada-nada jiwa.
Dawai merdu lantunan suara hati.
Mengalun bagai pesona ritme lagu menyambut mentari saat fajar tiba.
Aku terpesona bagai anak kecil tersihir oleh manik-manik berwarna-warni pelangi.
Sentuhannya tepat mengenai hati.
Aku tak kuasa tiba-tiba rindu menguasai alur nada hidupku.
Mengisinya dengan jutaan senyum penuh bahagia.
Walau sayup terdengar lolongan kesakitan dari lubuk jiwa.
Saat sela hatiku penuh dengan remah kisah lalu.
Ini aku, kau genggam seluruh hatiku dengan cinta berwarna ungu sehabis luka semalam.
Bertabur rindu yang kadang terlalu basi untuk sering di ucapkan.
Beraroma sama tapi selalu membuat candu.
Lagi-lagi rindu.
Semoga waktu berbaik hati mempertemukan kita.
Diatas janji suci bertabur restu sehidup semati.
Seperti langit dengan birunya.
Seperti pohon dengan tanahnya.
Seperti hujan dengan dinginnya.
Selama kau mau, kita akan bersama.
Selama kau mau, sebisa mungkin aku akan ada untuk kamu.
Sampai kemudian aku menggoreskan bait terakhir ini.
Rinduku masih menuju pada kasihmu.
DHEA X. NEAR
Jakarta, 20 November 2013
11.41 a.m
Dawai merdu lantunan suara hati.
Mengalun bagai pesona ritme lagu menyambut mentari saat fajar tiba.
Aku terpesona bagai anak kecil tersihir oleh manik-manik berwarna-warni pelangi.
Sentuhannya tepat mengenai hati.
Aku tak kuasa tiba-tiba rindu menguasai alur nada hidupku.
Mengisinya dengan jutaan senyum penuh bahagia.
Walau sayup terdengar lolongan kesakitan dari lubuk jiwa.
Saat sela hatiku penuh dengan remah kisah lalu.
Ini aku, kau genggam seluruh hatiku dengan cinta berwarna ungu sehabis luka semalam.
Bertabur rindu yang kadang terlalu basi untuk sering di ucapkan.
Beraroma sama tapi selalu membuat candu.
Lagi-lagi rindu.
Semoga waktu berbaik hati mempertemukan kita.
Diatas janji suci bertabur restu sehidup semati.
Seperti langit dengan birunya.
Seperti pohon dengan tanahnya.
Seperti hujan dengan dinginnya.
Selama kau mau, kita akan bersama.
Selama kau mau, sebisa mungkin aku akan ada untuk kamu.
Sampai kemudian aku menggoreskan bait terakhir ini.
Rinduku masih menuju pada kasihmu.
DHEA X. NEAR
Jakarta, 20 November 2013
11.41 a.m
Entah
Hati ini begitu gelisah..
Gelisah jika ingat kamu..
Gelisah saat aku memimpikan kamu tadi malam..
Terlalu lama aku menyimpannya di hati.
Entah kenapa hanya kamu yang tidak bisa aku ceritakan tentang isinya.
Apa aku terlalu kaku?
Apa aku terlalu takut?
Apa aku terlalu pengecut untuk hanya sekedar menceritakan nya dan berterus terang soal ini?
Masihkah mungkin dirimu berkenan menerima hatiku?
Wajahmu yang selalu saja mengisi hatiku di lorong gelap yang selalu aku tutupi.
Tapi tetap saja perasaan itu tak tahu diri, dan tiba-tiba keluar saat mimpi bertemu kamu.
Entah hati ini memberikanmu tempat seluas apa hingga kamu tak bisa aku lupakan.
Tapi sudahlah, biar waktu dan hatiku yang menyimpannya..
Aku tak mau tahu.
DEALOVA.
Gelisah jika ingat kamu..
Gelisah saat aku memimpikan kamu tadi malam..
Terlalu lama aku menyimpannya di hati.
Entah kenapa hanya kamu yang tidak bisa aku ceritakan tentang isinya.
Apa aku terlalu kaku?
Apa aku terlalu takut?
Apa aku terlalu pengecut untuk hanya sekedar menceritakan nya dan berterus terang soal ini?
Masihkah mungkin dirimu berkenan menerima hatiku?
Wajahmu yang selalu saja mengisi hatiku di lorong gelap yang selalu aku tutupi.
Tapi tetap saja perasaan itu tak tahu diri, dan tiba-tiba keluar saat mimpi bertemu kamu.
Entah hati ini memberikanmu tempat seluas apa hingga kamu tak bisa aku lupakan.
Tapi sudahlah, biar waktu dan hatiku yang menyimpannya..
Aku tak mau tahu.
DEALOVA.
Kamu, jangan pergi!
Entah bagaimana aku harus mengatakannya.
Selalu saja secara tiba-tiba mulutku kaku, pikiranku tiba-tiba hilang.
Kata-kata yang sudah secara utuh aku rangkai, selalu berantakan dan hilang begitu saja.
Mengapa hanya kamu yang bisa?
Mengapa hanya tubuhku saja yang tiba-tiba bergerak secara refleks tak beraturan saat kau menatapku dan aku menjatuhkan beberapa buku yang sudah kususun rapih di atas meja?
Lalu kau hanya tersenyum, senyuman paling manis yang bisa membuat waktu pun ikut berhenti total dalam beberapa mili detik.
Dan hilang berlalu begitu saja.
Lalu mengapa hanya kamu yang bisa membuat cuaca yang cerah bahkan panas terik sekali tiba-tiba mendung lalu gerimis dalam seketika, saat aku tahu kalau kamu ga masuk hari ini?
Kamu sakit? Sakit apa? Lalu apa yang harus aku lakukan? Aku harus gimana?
Hujan semakin deras, padahal aku tahu di luar sana matahari menyengat para pejalan kaki.
Seminggu sudah kamu ga nampakan diri.
Kamu kemana? Begitu parah kah sakitnya? Aku harus gimana?
Sebulan. Kamu kemana? Apa kamu udah baikan? Apa kabarnya?
Aku ga pernah liat kamu lagi.
Sudah menggunung rasa rindu ini.
Harus aku kemanakan?
Kamu ga pernah muncul lagi. Kamu pergi?
Jangan pergi!
Kalau kamu pergi siapa yang akan senyum sama aku tiap pagi?
Harus aku kemanain rindu yang udah aku tahan sebulan lebih?
Kalau kamu pergi kamu ga akan tahu ada orang yang tiap hari merhatiin kamu.
Kalo kamu pergi, kamu ga akan tahu ada orang yang selalu ingin mengatakan kalo senyum kamu mampu buat aku mati rasa.
Kalau kamu pergi kamu ga akan tahu betapa berartinya kamu bagi aku.
Kalau kamu pergi kamu ga akan pernah tahu nama orang itu.
Jadi, jangan pergi!
Hujan turun deras sekali. Mataharinya hilang di telan bumi.
Selalu saja secara tiba-tiba mulutku kaku, pikiranku tiba-tiba hilang.
Kata-kata yang sudah secara utuh aku rangkai, selalu berantakan dan hilang begitu saja.
Mengapa hanya kamu yang bisa?
Mengapa hanya tubuhku saja yang tiba-tiba bergerak secara refleks tak beraturan saat kau menatapku dan aku menjatuhkan beberapa buku yang sudah kususun rapih di atas meja?
Lalu kau hanya tersenyum, senyuman paling manis yang bisa membuat waktu pun ikut berhenti total dalam beberapa mili detik.
Dan hilang berlalu begitu saja.
Lalu mengapa hanya kamu yang bisa membuat cuaca yang cerah bahkan panas terik sekali tiba-tiba mendung lalu gerimis dalam seketika, saat aku tahu kalau kamu ga masuk hari ini?
Kamu sakit? Sakit apa? Lalu apa yang harus aku lakukan? Aku harus gimana?
Hujan semakin deras, padahal aku tahu di luar sana matahari menyengat para pejalan kaki.
Seminggu sudah kamu ga nampakan diri.
Kamu kemana? Begitu parah kah sakitnya? Aku harus gimana?
Sebulan. Kamu kemana? Apa kamu udah baikan? Apa kabarnya?
Aku ga pernah liat kamu lagi.
Sudah menggunung rasa rindu ini.
Harus aku kemanakan?
Kamu ga pernah muncul lagi. Kamu pergi?
Jangan pergi!
Kalau kamu pergi siapa yang akan senyum sama aku tiap pagi?
Harus aku kemanain rindu yang udah aku tahan sebulan lebih?
Kalau kamu pergi kamu ga akan tahu ada orang yang tiap hari merhatiin kamu.
Kalo kamu pergi, kamu ga akan tahu ada orang yang selalu ingin mengatakan kalo senyum kamu mampu buat aku mati rasa.
Kalau kamu pergi kamu ga akan tahu betapa berartinya kamu bagi aku.
Kalau kamu pergi kamu ga akan pernah tahu nama orang itu.
Jadi, jangan pergi!
Hujan turun deras sekali. Mataharinya hilang di telan bumi.
Bolehkah aku bertanya?
Sehangat cinta dalam pelukmu.
Sebening rindu yang engkau tawarkan.
Jika saja aku boleh bertanya.
Apakah aku layak untukmu?
Jika cinta saja tak cukup, bolehkah aku menawarkan kasih sayang seumur hidupku untukmu? Ya! Hanya untukmu.
Jika itu juga belum cukup. Aku tak punya apa-apa lagi.
Sebening rindu yang engkau tawarkan.
Jika saja aku boleh bertanya.
Apakah aku layak untukmu?
Jika cinta saja tak cukup, bolehkah aku menawarkan kasih sayang seumur hidupku untukmu? Ya! Hanya untukmu.
Jika itu juga belum cukup. Aku tak punya apa-apa lagi.
Rindu
Ini bukan Lelah..
Perasaan merana yang hanya dirasa oleh diri sendiri.
Rasakan!
Baru kau tahu kan apa rasanya?
Rona wajah berkelebat bergantian.
Tak tertarik kah kau membungkusnya?
Satu persatu rautnya berkelebat.
Jangankan menyapa, menolehpun tidak.
Jangankan memeluk, tersenyum pun tidak.
Tapi mengapa aku sangat suka sekali duduk disini.
Hiruk pikuk jalanan tak pernah peduli.
Kau tetap saja sendiri kesepian ditemani corong lampu taman yang selalu ada di sana.
Di taman kesukaran, yang halamannya penuh dengan sampah kenangan.
Menanti malam menyapa.
Berharap ada seseorang yang memberitahu apa sebenarnya tempat ini.
Lalu, angin membisik, membuat bulu roma berdiri.
Dan malam pun datang memberi tahu.
Tempat ini adalah Rindu.
Dimana kenangan dan harapan menyatu.
Dimana kasih dan benci samar sekali dibedakan.
Dimana seolah-olah kau hidup tapi sekaligus mati.
Senyum dan sedih yang bergantian menghiasi wajah.
Kau tetap seperti itu sampai kau lepas dari rindu.
Menyakitkan sekali jika kau Rindu dan tak seorangpun menemani rindumu.
Akhirnya aku terus berjalan, berharap menemukan tempat untuk beberapa sajak yang ku tulis. Karena rindu ini tak punya teman.
Nafas
Belahan Jiwa, dengar kan ini, mungkin harapan ini berharap sangat tinggi,
Indah membayang di kelopak mata.
Sejuta rasa membuncah menggelora dalam dada.
Namamu kusebut ribuan kali dalam diam ku.
Sedetik waktu, Seribu tahun ku rasakan.
Aku ingin berterus terang,
Aku inginkan kamu.
Ketika surya membelah kegelapan.
Angin-angin berarak menyongsong fajar pagi.
Takdir waktu semoga saja.
Dulu, takdir itu yang mempertemukan kita.
Dan aku mencoba melihat kedalam hatimu,
Mencoba merasakan getaran cinta yang sempat aku rasakan dalam diammu.
Mencoba menebak isi hatimu yang sempat berkelebat dalam khayalku
Desiran darah ini penuh dengan aroma cinta,
Tak terasa embun mulai menetes di ujung dedaunan
Sebening mata yang kamu punya.
Sesegar Cinta yang kamu tawarkan.
Seandainya aku bisa menahan waktu.
Ingin kudekap erat.
Tak ingin lepaskan ikatan ini.
Senja berubah rona.
Kelabu, hitam, pekat, gelap.
Namun cintaku hanya kamu.
Dalam diamku,
Aku Cinta padamu.
Indah membayang di kelopak mata.
Sejuta rasa membuncah menggelora dalam dada.
Namamu kusebut ribuan kali dalam diam ku.
Sedetik waktu, Seribu tahun ku rasakan.
Aku ingin berterus terang,
Aku inginkan kamu.
Ketika surya membelah kegelapan.
Angin-angin berarak menyongsong fajar pagi.
Takdir waktu semoga saja.
Dulu, takdir itu yang mempertemukan kita.
Dan aku mencoba melihat kedalam hatimu,
Mencoba merasakan getaran cinta yang sempat aku rasakan dalam diammu.
Mencoba menebak isi hatimu yang sempat berkelebat dalam khayalku
Desiran darah ini penuh dengan aroma cinta,
Tak terasa embun mulai menetes di ujung dedaunan
Sebening mata yang kamu punya.
Sesegar Cinta yang kamu tawarkan.
Seandainya aku bisa menahan waktu.
Ingin kudekap erat.
Tak ingin lepaskan ikatan ini.
Senja berubah rona.
Kelabu, hitam, pekat, gelap.
Namun cintaku hanya kamu.
Dalam diamku,
Aku Cinta padamu.
Dhea X. Near
31 Oktober 2012
"Happy 6 Month, Irenia"
Di Batas Senja
Lembayung di Batas senja
Ribuan penyokong langit mulai memudar warnanya
Burung-burung melandai kembali menuju sarang yang biasa
Para petani berkemas hendak pulang ke rumah mereka
Aku pun hendak menepi
Menepi dari segala kepahitan ini
Menepi dari segala kesusahan ini
Menuju dermaga yang dipenuhi tulisan-tulisan semrawut di dindingnya
Dan berakhir di Lembah hati yang dipenuhi dengan Anggrek Bulan atau semacamnya
Memori ini begitu panjang bagiku
Hingga ribuan asa tak juga binasa
Dirimu telah berkubang memenuhi takdirnya di hatiku
dipenuhi lumpur cinta dan asmara yang pekat mewarna
Sampailah pada suatu senja
Aku menatapnya, sampai sang raja hari hilang dan mengucapkan salam perpisahan
Takdir siapa yang tahu?
Mungkin saja esok mataku buta dan tak dapat melihatnya lagi
mungkin saja esok Matahari tak terbit lagi
atau..
mungkin saja esok aku.... MATI!!!
Dhea X. Near,
27 november 2011
Ribuan penyokong langit mulai memudar warnanya
Burung-burung melandai kembali menuju sarang yang biasa
Para petani berkemas hendak pulang ke rumah mereka
Aku pun hendak menepi
Menepi dari segala kepahitan ini
Menepi dari segala kesusahan ini
Menuju dermaga yang dipenuhi tulisan-tulisan semrawut di dindingnya
Dan berakhir di Lembah hati yang dipenuhi dengan Anggrek Bulan atau semacamnya
Memori ini begitu panjang bagiku
Hingga ribuan asa tak juga binasa
Dirimu telah berkubang memenuhi takdirnya di hatiku
dipenuhi lumpur cinta dan asmara yang pekat mewarna
Sampailah pada suatu senja
Aku menatapnya, sampai sang raja hari hilang dan mengucapkan salam perpisahan
Takdir siapa yang tahu?
Mungkin saja esok mataku buta dan tak dapat melihatnya lagi
mungkin saja esok Matahari tak terbit lagi
atau..
mungkin saja esok aku.... MATI!!!
Dhea X. Near,
27 november 2011
ANDROMEDA
Dan akhirnya hujan pun reda
Aku masih terpaku di sudut kesendirian ku
Menikmati percikan air yang turun setetes demi setetes dari atap
Angin malam menyelimuti ku
Menyusupkan dingin ke sela-sela kulitku
Masih Aku terbayang wajahmu
Kurindukan seberkas senyum di bibirmu
Senyuman yang hampir beku dimakan waktu
Memuntahkan memori kenangan dalam bejana cinta
Masihkah engkau melihat langit malam?
Bercerita tentang bintang-bintang kecil di atas sana?
Selalu Aku berkata "Bintang-bintang itu terlalu besar untuk kau sebut 'kecil'"
Tapi, kau tak pernah mendengarkannya
Malah kau asyik menyebutkan satu persatu galaksi yang kau hafal
Lalu bernyanyi kecil, hingga kau lupa kau sudah terlelap di bahuku
Masihkah kau ingat saat kau berkata
"Seandainya kau jauh setidaknya kabari aku"
saat itu Aku benar-benar berjanji
Kalau Aku tak akan pernah 'jauh' darimu
Tak akan pernah!
Apakah janji itu masih kau butuhkan saat ini?
Saat dimana kita sudah tak lagi saling berkata?
Saat dimana kita tak pernah tahu satu sama lain?
Saat dimana Aku tak tahu dimana kau sekarang?
Aku mencoba mencari jejak cinta kita dimasa lalu
Merangkai dan menyusunnya kembali dalam Puzzle yang tak pernah kita selesaikan
Dan Aku menaruhnya kembali di lorong hati yang paling gelap
Hujan kembali turun.
Mengaburkan bayangan wajahmu pada air yang tergenang
Mengembalikan Aku pada sudut keremangan ini
Menerobos gelap dan hujan yang sudah semakin deras
Aku tak tahu kemana Aku melangkah
Yang Aku tahu, Aku hanya ingin berlari.
Yang Aku tahu, Aku hanya ingin pergi.
Dhea X. Near
19 Januari 2012
Aku masih terpaku di sudut kesendirian ku
Menikmati percikan air yang turun setetes demi setetes dari atap
Angin malam menyelimuti ku
Menyusupkan dingin ke sela-sela kulitku
Masih Aku terbayang wajahmu
Kurindukan seberkas senyum di bibirmu
Senyuman yang hampir beku dimakan waktu
Memuntahkan memori kenangan dalam bejana cinta
Masihkah engkau melihat langit malam?
Bercerita tentang bintang-bintang kecil di atas sana?
Selalu Aku berkata "Bintang-bintang itu terlalu besar untuk kau sebut 'kecil'"
Tapi, kau tak pernah mendengarkannya
Malah kau asyik menyebutkan satu persatu galaksi yang kau hafal
Lalu bernyanyi kecil, hingga kau lupa kau sudah terlelap di bahuku
Masihkah kau ingat saat kau berkata
"Seandainya kau jauh setidaknya kabari aku"
saat itu Aku benar-benar berjanji
Kalau Aku tak akan pernah 'jauh' darimu
Tak akan pernah!
Apakah janji itu masih kau butuhkan saat ini?
Saat dimana kita sudah tak lagi saling berkata?
Saat dimana kita tak pernah tahu satu sama lain?
Saat dimana Aku tak tahu dimana kau sekarang?
Aku mencoba mencari jejak cinta kita dimasa lalu
Merangkai dan menyusunnya kembali dalam Puzzle yang tak pernah kita selesaikan
Dan Aku menaruhnya kembali di lorong hati yang paling gelap
Hujan kembali turun.
Mengaburkan bayangan wajahmu pada air yang tergenang
Mengembalikan Aku pada sudut keremangan ini
Menerobos gelap dan hujan yang sudah semakin deras
Aku tak tahu kemana Aku melangkah
Yang Aku tahu, Aku hanya ingin berlari.
Yang Aku tahu, Aku hanya ingin pergi.
19 Januari 2012