Showing posts with label kenangan. Show all posts
CUKUP KAMU DISITU
Maaf
aku tak sengaja merindukanmu
Senandung
lagu itu yang mengingatkannya
Mengalun,
terputar begitu saja pada playlistku.
Ingat
pertemuan pertama kita?
Hanya
itu memori yang tidak bisa aku lupakan
Serapat
mungkin aku menutupnya agar kamu tidak tahu.
Padahal,
dada ini masih bergetar bila melihatmu
Hanya
saja aku mengabaikannya, agar tidak terlalu tumbuh subur
Sampai
malam ini,
Aku
ingin bertemu kamu
Rasanya
berbicara denganmu adalah obat penatku
Kemudian
kesempatan bertemu itu pun datang
Aku
berusaha mati-matian agar tak tertarik
Meyakinkan
diriku, ini hanya pertemuan biasa
Tapi,
apa daya, melihat sosokmu saja cukup membuat aku terpukau
Dan
itu cukup membuatku tak bisa tidur semalaman
Tapi
Aku
takut,
Takut
jatuh kembali,
Aku
capek jika harus menyusun kembali pecahan-pecahan hati ini.
Sudah
hampir patah, bahkan bagian sisi hilang entah kemana.
Meski
aku tahu,
Aku
bukanlah seseorang yang kamu inginkan dalam hidupmu
Aku
jauh dari itu,
Cukup
kamu disitu,
Membiarkan
aku mengagumi kamu
Membiarkan
aku terpesona dengan senyummu
Aku
sudah bahagia dengan itu.
Meskipun
aku perlahan hampir sekarat menahan rindu ini.
Dan
tolong jangan bersimpati,
Karena
aku takut ini akan sia-sia jika itu terjadi.
Dea
Yusuf
Sumberjaya,
2 May 2016
SEBAIT PUISI
Bertemu
sekali saja,
Itu
sudah cukup untukku.
Bertatap
muka sekejap saja,
Itu
akan membuatku mengerti.
Tak
berlu berbicara,
Hanya
goresan lengkung di bibirmu,
Sudah
cukup berarti, berarti sekali
Kamu
adalah sebuah keindahan.
Sebuah
sajak yang sulit kutulis
Sebuah
karya yang tak terlukis.
Aku
mengerti jika kemudian kamu pergi.
Tanpa
menoleh lagi.
Meski
aku tahu terkadang kamu melirik.
Memastikan
aku baik-baik saja.
Memastikan
hatimu tak terkilir lagi.
Mencinta
seperih ini,
Merindu
sekeras ini,
Kita
hanya terpisah oleh sebait puisi
Yang
sajaknya canggung untuk disuarakan.
Sehingga
tak pernah selesai diciptakan.
Dea Yusuf,
Sumberjaya, 2 May 2016
Fabula
Menyenangkan sekali.
Aku tidak pernah lupa bagaimana senyuman manismu dulu pernah membekukan waktuku.
Aku tidak pernah lupa bagaimana tingkah lucumu yang polos . gemas sekali.
tapi semua harus terhenti saat kejenuhan melanda sebuah hubungan.
aku jenuh sejenuh jenuhnya, mengingatmu saja terkadang membuatku sakit kepala.
Perasaan ingin bebas dan menghindar itu sangat kuat sekali.
tetapi aku tidak pernah menceritakan ini padamu, aku takut kamu sakit hati.
senyum ini terkadang palsu.
Aku tidak benar-benar menyukaimu, sedari dulu aku memang tidak sepenuh hati.
dari situ kadang ceritamu jadi terdengar membosankan. candaanmu pun terasa garing.
entah apa yang salah dengan aku, atau kamu.
sampai suatu hari, aku memutuskan untuk menceritakan ini semua padamu.
aku tak ingin menyimpan ini sendirian.
aku mulai dengan basa basi, tersenyum sedikit, lalu aku menceritakannya padamu.
"Aku mau kita putus"
tak kusangka aku mampu mengatakannya, lirih sekali aku tak sanggup menatap matamu.
pelan, namun aku yakin itu bisa mengguncang seluruh hatimu.
lalu kemudian reaksi selanjutnya membuatku terkejut.
aku tak menyangka kau akan tersenyum.
"baiklah, terimakasih sudah ada di hidupku"
kemudian kau pun beranjak pergi.
Beberapa waktu memang aku pikir keputusan ini tepat berpisah denganmu.
sampai kemudian aku mulai merindukanmu.
aku tanyakan apa kabarmu,
Kau menjawab ala kadarnya
percakapan Via pesan singkat itu pun berlangsung singkat dan hambar.
Aku mulai merutuki diri sendiri, betapa bodohnya melepas wanita sepertimu
kenapa rasa itu datang justru setelah kamu pergi?
sudah percuma, nasi sudah menjadi bubur, pepatah usang terngiang-ngiang di kepalaku
dan kini sebuah undangan terselip di bawah pintu masuk rumahku.
aku tersenyum melihat nama yang tertera disana.
ada namamu, dan tentu saja calon suamimu.
aku menyimpannya di atas meja ruang tamu.
'mungkin terjatuh' pikirku
aku masih belum selesai mengurus kelengkapan suratnya.
maafkan aku soal dahulu, aku berjanji, itu terakhir kali aku membuatmu sakit hati.
dan nanti aku akan menjagamu sampai mati, calon istriku.
oleh : Dhea X. Near
12 Januari 2016
Aku tidak pernah lupa bagaimana senyuman manismu dulu pernah membekukan waktuku.
Aku tidak pernah lupa bagaimana tingkah lucumu yang polos . gemas sekali.
tapi semua harus terhenti saat kejenuhan melanda sebuah hubungan.
aku jenuh sejenuh jenuhnya, mengingatmu saja terkadang membuatku sakit kepala.
Perasaan ingin bebas dan menghindar itu sangat kuat sekali.
tetapi aku tidak pernah menceritakan ini padamu, aku takut kamu sakit hati.
senyum ini terkadang palsu.
Aku tidak benar-benar menyukaimu, sedari dulu aku memang tidak sepenuh hati.
dari situ kadang ceritamu jadi terdengar membosankan. candaanmu pun terasa garing.
entah apa yang salah dengan aku, atau kamu.
sampai suatu hari, aku memutuskan untuk menceritakan ini semua padamu.
aku tak ingin menyimpan ini sendirian.
aku mulai dengan basa basi, tersenyum sedikit, lalu aku menceritakannya padamu.
"Aku mau kita putus"
tak kusangka aku mampu mengatakannya, lirih sekali aku tak sanggup menatap matamu.
pelan, namun aku yakin itu bisa mengguncang seluruh hatimu.
lalu kemudian reaksi selanjutnya membuatku terkejut.
aku tak menyangka kau akan tersenyum.
"baiklah, terimakasih sudah ada di hidupku"
kemudian kau pun beranjak pergi.
Beberapa waktu memang aku pikir keputusan ini tepat berpisah denganmu.
sampai kemudian aku mulai merindukanmu.
aku tanyakan apa kabarmu,
Kau menjawab ala kadarnya
percakapan Via pesan singkat itu pun berlangsung singkat dan hambar.
Aku mulai merutuki diri sendiri, betapa bodohnya melepas wanita sepertimu
kenapa rasa itu datang justru setelah kamu pergi?
sudah percuma, nasi sudah menjadi bubur, pepatah usang terngiang-ngiang di kepalaku
dan kini sebuah undangan terselip di bawah pintu masuk rumahku.
aku tersenyum melihat nama yang tertera disana.
ada namamu, dan tentu saja calon suamimu.
aku menyimpannya di atas meja ruang tamu.
'mungkin terjatuh' pikirku
aku masih belum selesai mengurus kelengkapan suratnya.
maafkan aku soal dahulu, aku berjanji, itu terakhir kali aku membuatmu sakit hati.
dan nanti aku akan menjagamu sampai mati, calon istriku.
oleh : Dhea X. Near
12 Januari 2016
12 Jan 2016
Posted by
Unknown
CORETAN AWAL TAHUN!
Januari 2016.
Tidak terasa, yah? ini sudah tahun 2016.
dulu, ketika milenium 2000 baru dimulai, banyak orang memprediksi tentang kemajuan tekhnologi.
dari mulai mobil bisa terbang, peran manusia yang mulai di gantikan oleh robot. dan khayalan euporia kedatangan zaman baru yang sebenarnya bumi kita semakin tua renta.
tapi Aku, sebenarnya tak berharap lebih, aku hanya ingin cepat menikah dan punya penghasilan layak. bukan berarti aku tak punya cita-cita dan semangat buat bermimpi. aku punya cita-cita yang tinggi, yang sebenarnya harus kalian ketahui, aku adalah seorang pemimpi yang handal. suatu hari aku pernah bermimpi bertemu artis dangdut idola, dan setelah aku bangun, aku sadar itu mimpi. dan aku sedikit kecewa. absurd memang.
Sebelum tahun 2016, tahun sebelumnya targetku jelas, lulus kuliah.
untuk tahun ini mungkin aku harus sedikit bersabar dengan harapanku (kebanyakan orang bilang, Resolusi).
suatu rencana besar sudah ada dalam kepalaku. Tapi, butuh proses dan dana yang tidak kecil untuk mewujudkannya dan aku tidak bisa sendirian melakukannya, aku butuh beberapa orang dalam satu tim. tapi dikarenakan itu semua belum memenuhi kriteria, aku mempersempit rencana itu menjadi lebih sederhana.
Aku type manusia yang bekerja individu, pekerjaan tim hanya membuatku repot, kecuali di timku punya cara kerja yang sama denganku, terdengar egois dan sok pintar memang, tapi aku lebih senang menanggung resiko yang kubuat sendiri. maka dari itulah rencana besarku belum terealisasi.
rencana yang sudah aku persempit tersebut masih mentok dengan kekuranganku berkomunikasi, aku punya mental jelek dalam bersosialisasi, aku introvert!(kebanyakan teman-temanku tak mengakui ini) menyebalkan. aku malas terlibat dengan pembicaraan yang panjang lebar, aku lebih suka langsung menuju inti, padahal sebuah basa basi sangat penting untuk kelancaran komunikasi.
aku harus mengandalkan orang lain lagi dalam hal ini.
hhh.. setidaknya aku punya recana dan cita-cita, untuk menjalankan itu semua butuh strategi matang dan sebuah cetak biru langkah-langkah yang akan di ambil. Ribuan orang diluar sana mungkin punya masalah yang sama atau malah lebih besar dari yang aku hadapi, bersyukurlah, dan harus selalu jadi cermin agar aku tidak salah jalan.
2016, aku siap!
Tidak terasa, yah? ini sudah tahun 2016.
dulu, ketika milenium 2000 baru dimulai, banyak orang memprediksi tentang kemajuan tekhnologi.
dari mulai mobil bisa terbang, peran manusia yang mulai di gantikan oleh robot. dan khayalan euporia kedatangan zaman baru yang sebenarnya bumi kita semakin tua renta.
tapi Aku, sebenarnya tak berharap lebih, aku hanya ingin cepat menikah dan punya penghasilan layak. bukan berarti aku tak punya cita-cita dan semangat buat bermimpi. aku punya cita-cita yang tinggi, yang sebenarnya harus kalian ketahui, aku adalah seorang pemimpi yang handal. suatu hari aku pernah bermimpi bertemu artis dangdut idola, dan setelah aku bangun, aku sadar itu mimpi. dan aku sedikit kecewa. absurd memang.
Sebelum tahun 2016, tahun sebelumnya targetku jelas, lulus kuliah.
untuk tahun ini mungkin aku harus sedikit bersabar dengan harapanku (kebanyakan orang bilang, Resolusi).
suatu rencana besar sudah ada dalam kepalaku. Tapi, butuh proses dan dana yang tidak kecil untuk mewujudkannya dan aku tidak bisa sendirian melakukannya, aku butuh beberapa orang dalam satu tim. tapi dikarenakan itu semua belum memenuhi kriteria, aku mempersempit rencana itu menjadi lebih sederhana.
Aku type manusia yang bekerja individu, pekerjaan tim hanya membuatku repot, kecuali di timku punya cara kerja yang sama denganku, terdengar egois dan sok pintar memang, tapi aku lebih senang menanggung resiko yang kubuat sendiri. maka dari itulah rencana besarku belum terealisasi.
rencana yang sudah aku persempit tersebut masih mentok dengan kekuranganku berkomunikasi, aku punya mental jelek dalam bersosialisasi, aku introvert!(kebanyakan teman-temanku tak mengakui ini) menyebalkan. aku malas terlibat dengan pembicaraan yang panjang lebar, aku lebih suka langsung menuju inti, padahal sebuah basa basi sangat penting untuk kelancaran komunikasi.
aku harus mengandalkan orang lain lagi dalam hal ini.
hhh.. setidaknya aku punya recana dan cita-cita, untuk menjalankan itu semua butuh strategi matang dan sebuah cetak biru langkah-langkah yang akan di ambil. Ribuan orang diluar sana mungkin punya masalah yang sama atau malah lebih besar dari yang aku hadapi, bersyukurlah, dan harus selalu jadi cermin agar aku tidak salah jalan.
2016, aku siap!
PAIN
Is like scrapping past wound.
When everything has done.
I just looking back, and i found some picture.
i shouldn't saw that.
and then i thrown to the past when the sunshine still smiling at me.
When the rainbow still has many colors.
i'm standing here.
in the blue of sky.
and rain wash my pain.
Dear Sunshine would you give me some chance?
To take some pieces of yours, and turn it blue again.
Rain.
i let you go.
there is some secret that i don't tell.
but love is always whispering.
No, i can't forget.
when i had you there
and then i let you go.
and now i'm standing here among the despair.
and hope to the rain to wash all my pain.
When everything has done.
I just looking back, and i found some picture.
i shouldn't saw that.
and then i thrown to the past when the sunshine still smiling at me.
When the rainbow still has many colors.
i'm standing here.
in the blue of sky.
and rain wash my pain.
Dear Sunshine would you give me some chance?
To take some pieces of yours, and turn it blue again.
Rain.
i let you go.
there is some secret that i don't tell.
but love is always whispering.
No, i can't forget.
when i had you there
and then i let you go.
and now i'm standing here among the despair.
and hope to the rain to wash all my pain.
Dea Yusuf
Jakarta, 11 Desember 2014
Adakah Kamu Mengerti?
Ketika itu..
Aku melihat sesuatu di matamu.
Ada kisah terlukis seperti sudah lalu, sekilas, ya hanya sekilas.
Aku percaya pada takdir,
Entah dengan mu atau tidak, semua ada cara dimana kita akan bersatu atau terpisah.
Kamu bilang, semoga Tuhan menakdirkan nisan kita berdekatan.
Aku terenyuh, Aku begitu sangat menanti saat-saat dimana kita dipersatukan.
Saat kita membuat kembali kesepakatan seumur hidup.
Merajut sebuah mimpi yang bahkan kita masih belum rangkai.
Menerka-nerka hal menyenangkan apa yang akan kita lakukan nanti.
Namun,
Saat perpisahan menghalangi jalan kita.
Dan kemudian di persimpangan itu kita berpisah.
Bersabarlah cintaku.
Mungkin akan terasa sakit, tapi aku yakin pasti sesuatu lebih indah ada di depan kita.
Jika suatu hari ku temukan kamu dengan seseorang,
Ahh.. betapa beruntungnya dia.
Aku bahagia bisa mengenal dan punya cerita bersamamu.
Adakah kamu mengerti?
Dhea x. Near
14 Agustus 2014
Kita yang Terlupakan.
Hingga kita tiba pada saat dimana semua berubah.
Orang-orang tak lagi sama.
Wajah mereka berubah,
Hati mereka berubah.
Lalu perlahan kita terlupakan,
Terlupakan masa lalu,
Terlupakan keakraban,
Semua kembali bisu,
Tak ada cerita setelah itu.
Seolah tak pernah berjabat tangan sebelumnya lalu saling menyebutkan nama.
Kenakalan dan candaan tidak lucu yang sering terlontar.
Perlahan menguning karena korosi di atas buku cerita.
Sering kali aku melihatnya digerogoti tikus kecil yang membuat sarang di rumahku.
Semua berdebu, terlalu lama beku.
Terlalu lama dibiarkan, hingga tak tahu harus diapakan.
Bisa saja mati rasa, seperti kesemutan.
Lalu kemudian menyakitkan.
Dan kita kembali mencari sesuatu yang harus kita ingat.
Mencari mereka yang tak pernah terlupakan.
Mencari mereka yang tidak akan lupa saat pertama berjabat tangan dan saling menyebutkan nama.
Mencari mereka yang mengingat siapa kita dan alasan kita untuk tetap pada jalur seharusnya.
Dan kemudian tak akan terlupakan.
27 Januari 2014
Dhea X. Near
Hingga Saat Itu
Darahku mengalir deras di nadiku. Mengalir lembut
memenuhi relung urat sarafku.
Adinda, pernahkah kau merasakan Cinta?
Sejuta makna yang memeluk indah jiwa, hingga seribu rasa
menyatu dalam hati.
Sejuta perasaan yang bercampur aduk dalam raga, menyatu hingga
menimbulkan sejuta pelangi dalam hati
Adinda, pernahkah kau merasakan sakit hati?
Saat dimana kehilangan seseorang yang kau sayangi.
Saat seseorang yang sangat dekat denganmu berbalik
meninggalkanmu.
Seribu perasaan bingung, marah, takut, kecewa, dan entah
apalagi berubah menusuk ke relung hati.
Cinta selalu menyediakan cerita yang berlawanan.
Ada senang tentu ada sedih.
Ada cemburu dan ada rasa dihargai
Ada cinta ada juga benci
Ada kehilangan tentu ada yang beruntung telah mendapatkan
seseorang.
Begitupun cinta kita, Adinda.
Berjuta rasa penuh makna, beradu dalam hati kita.
Menimbulkan rona merah muda yang menampakan keindahan.
Tapi Adinda…
Akankah rasa ini memuai?
Menguap bagai embun yang menempel pada kaca?
Hingga kita berdua menyalahkan waktu atau jarak yang
memisahkan kita?
Semoga saja cinta kita lebih kuat dari sekedar embun yang menempel pada kaca dipagi hari
Dari hanya sekedar jarak yang seharusnya tak perlu jadi
celah permasalahan kita.
Adinda..
Terkadang waktupun begitu iri dengan kuatnya cinta kita.
Terkadang ia memberikan seseorang diantara celah
kejenuhan kita.
Terkadang ia memberikan keraguan diantara celah keyakinan
kita.
Apakah KAU akan bertahan, Adinda?
Apakah AKU akan bertahan, Adinda?
Sehingga cerita-cerita biasa tentang berjuta pasangan
yang memutuskan mengakhiri cinta mereka
Akan terjadi pada kita?
Ohh mungkinkah suratan takdir kita berbeda Adinda?
Sehingga namaku hanya akan menjadi nama yang pernah kau
kenal dahulu.
Sehingga namamu hanya akan menjadi cerita dikehidupan
masa mudaku?
Semoga saja ini akan bertahan, Adinda.
Sekuat hatiku bisa bertahan,
Sekuat hatimu dan ketulusanmu.
Menarik, bukan?
Apakah kita akan berjudi dengan waktu?
Mempertaruhkan
nama kita dan memastikan apakah takdir kita sama?
Apakah perlu?
Ataukah kita hanya perlu menunggu, Adinda?
Lagi-lagi kita berjudi dengan waktu menunggu dia
memutarkan bagian yang kita tunggu.
Memilihkan bagian takdir yang terbaik untuk kita berdua.
Menaruh harapan dan impian padanya.
Adinda, sudahlah, dunia tak abadi.
Ilalang tak akan pernah menjadi pohon yang rindang.
Semua berjalan seperti yang dituliskan-Nya.
Kita tak perlu berjudi dengan waktu atau siapapun.
Yang kita perlukan adalah keikhlasan dan kepasrahan
pada-Nya.
Rindu
Ini bukan Lelah..
Perasaan merana yang hanya dirasa oleh diri sendiri.
Rasakan!
Baru kau tahu kan apa rasanya?
Rona wajah berkelebat bergantian.
Tak tertarik kah kau membungkusnya?
Satu persatu rautnya berkelebat.
Jangankan menyapa, menolehpun tidak.
Jangankan memeluk, tersenyum pun tidak.
Tapi mengapa aku sangat suka sekali duduk disini.
Hiruk pikuk jalanan tak pernah peduli.
Kau tetap saja sendiri kesepian ditemani corong lampu taman yang selalu ada di sana.
Di taman kesukaran, yang halamannya penuh dengan sampah kenangan.
Menanti malam menyapa.
Berharap ada seseorang yang memberitahu apa sebenarnya tempat ini.
Lalu, angin membisik, membuat bulu roma berdiri.
Dan malam pun datang memberi tahu.
Tempat ini adalah Rindu.
Dimana kenangan dan harapan menyatu.
Dimana kasih dan benci samar sekali dibedakan.
Dimana seolah-olah kau hidup tapi sekaligus mati.
Senyum dan sedih yang bergantian menghiasi wajah.
Kau tetap seperti itu sampai kau lepas dari rindu.
Menyakitkan sekali jika kau Rindu dan tak seorangpun menemani rindumu.
Akhirnya aku terus berjalan, berharap menemukan tempat untuk beberapa sajak yang ku tulis. Karena rindu ini tak punya teman.