Showing posts with label puisi. Show all posts
LUKA
Lihatlah dirimu.
Penuh luka dan terkulai membisu.
Apa mungkin seseorang mengambil hatimu lagi, dan lalu pergi begitu saja?
Kau tak pernah mau menjawabnya.
Apakah harus aku katakan jika seseorang lain juga menunggumu?
Apakah harus aku katakan jika seseorang lain juga menunggumu?
Kau pun juga tak peduli tentang itu.
ELEGI
Jika muara adalah pelabuhan air
Maka aku adalah kerikil di sungai.
Terkikis secara halus bagai pualam mentah.
Maka aku adalah kerikil di sungai.
Terkikis secara halus bagai pualam mentah.
Jalan pencinta adalah merana
Tidak elok jika tak di warnai amarah.
Balutan gulana menggantung lesu di balik serban.
Lalu kenapa banyak yang mencarinya?
Tidak elok jika tak di warnai amarah.
Balutan gulana menggantung lesu di balik serban.
Lalu kenapa banyak yang mencarinya?
Sekonyong-konyong datang serombongan Rindu.
Menghajar habis-habisan carikan memori.
Obat apa lagi selain jamuan sua?
Padahal bekasnya mulai bernanah.
Menghajar habis-habisan carikan memori.
Obat apa lagi selain jamuan sua?
Padahal bekasnya mulai bernanah.
Tetapi, entahlah, tak acuh saja.
Jejaknya dahulu ada disini mulai berpendar.
Apa pantas setersiksa ini?
Jejaknya dahulu ada disini mulai berpendar.
Apa pantas setersiksa ini?
Dea Yusuf
Sumber jaya, 14 Mei 2016
TERSENYUMLAH
Lihat bulan malam ini
Hampir sempurna,
Malam di sini amat dingin,
Hanya terdengar jangkrik bersautan.
Selagi kamu melihat bulan,
Aku mencuri pandang,
Warna matamu, hitam kecoklatan.
Agak kabur memang, tapi aku yakin bukan hijau kebiruan
Seperti itu, kamu masih bisu, sedari tadi
Aku bicara panjang lebar,
Tapi kamu seperti pendengar setia yang pikirannya melayang
pergi
Tertiup angin
Pandanganmu kosong
Matamu menyipit
Seperti menahan berton-ton air mata yang ingin keluar
Aku mengerti
Bahuku akan selalu ada untukmu
Akan selalu menjadi tempat ternyamanmu
Menangisi dia yang berulang kali menjatuhkan janjinya
Aku akan selalu ada di sini
Mengusap gelontoran air matamu
Mendengarkanmu
Menyemangatimu
Hembusan karbondioksida mu mulai tak beraturan
Bendungan matamu tak bisa menahannya lagi
Membasahi bajuku
Di bagian bahu..
Semakin deras
Kemudian terisak
Kamu menangis lagi.
Aku mohon, tersenyumlah, aku tak tahan melihatnya.
Dea Yusuf
Sumberjaya, 13 May 2016