Showing posts with label malam. Show all posts
SEBAIT PUISI
Bertemu
sekali saja,
Itu
sudah cukup untukku.
Bertatap
muka sekejap saja,
Itu
akan membuatku mengerti.
Tak
berlu berbicara,
Hanya
goresan lengkung di bibirmu,
Sudah
cukup berarti, berarti sekali
Kamu
adalah sebuah keindahan.
Sebuah
sajak yang sulit kutulis
Sebuah
karya yang tak terlukis.
Aku
mengerti jika kemudian kamu pergi.
Tanpa
menoleh lagi.
Meski
aku tahu terkadang kamu melirik.
Memastikan
aku baik-baik saja.
Memastikan
hatimu tak terkilir lagi.
Mencinta
seperih ini,
Merindu
sekeras ini,
Kita
hanya terpisah oleh sebait puisi
Yang
sajaknya canggung untuk disuarakan.
Sehingga
tak pernah selesai diciptakan.
Dea Yusuf,
Sumberjaya, 2 May 2016
Kita yang Terlupakan.
Hingga kita tiba pada saat dimana semua berubah.
Orang-orang tak lagi sama.
Wajah mereka berubah,
Hati mereka berubah.
Lalu perlahan kita terlupakan,
Terlupakan masa lalu,
Terlupakan keakraban,
Semua kembali bisu,
Tak ada cerita setelah itu.
Seolah tak pernah berjabat tangan sebelumnya lalu saling menyebutkan nama.
Kenakalan dan candaan tidak lucu yang sering terlontar.
Perlahan menguning karena korosi di atas buku cerita.
Sering kali aku melihatnya digerogoti tikus kecil yang membuat sarang di rumahku.
Semua berdebu, terlalu lama beku.
Terlalu lama dibiarkan, hingga tak tahu harus diapakan.
Bisa saja mati rasa, seperti kesemutan.
Lalu kemudian menyakitkan.
Dan kita kembali mencari sesuatu yang harus kita ingat.
Mencari mereka yang tak pernah terlupakan.
Mencari mereka yang tidak akan lupa saat pertama berjabat tangan dan saling menyebutkan nama.
Mencari mereka yang mengingat siapa kita dan alasan kita untuk tetap pada jalur seharusnya.
Dan kemudian tak akan terlupakan.
27 Januari 2014
Dhea X. Near
Rumit
Sebenarnya banyak sekali yang ingin aku ceritakan.
Tapi.. kembali hanya tarian tanganku yang berhasil mengukirnya tidak lidah dan bibirku.
Sekarang pun, banyak sekali yang ingin kepalaku ceritakan, tapi jari-jariku sulit sekali merangkaikan hurufnya.
Dan saat ini kepalaku berpikir tentang banyak hal, tapi hanya hatiku yang bisa membacanya.
Agh.. rumit sekali..
Dan entah kenapa bayangan yang itu-itu saja yang selalu hadir di mataku.
Kenapa mengungkapkan cinta harus serumit itu?
Padahal cinta itu simpel sekali.
Dan lagi lagi aku kehilangan kata apa yang harus aku tulis.
Tapi.. kembali hanya tarian tanganku yang berhasil mengukirnya tidak lidah dan bibirku.
Sekarang pun, banyak sekali yang ingin kepalaku ceritakan, tapi jari-jariku sulit sekali merangkaikan hurufnya.
Dan saat ini kepalaku berpikir tentang banyak hal, tapi hanya hatiku yang bisa membacanya.
Agh.. rumit sekali..
Dan entah kenapa bayangan yang itu-itu saja yang selalu hadir di mataku.
Kenapa mengungkapkan cinta harus serumit itu?
Padahal cinta itu simpel sekali.
Dan lagi lagi aku kehilangan kata apa yang harus aku tulis.