Showing posts with label karya. Show all posts
SAMPAI KAPAN?
Hujan
di sore hari..
Selalu
saja menyisakan memori
Entah
perasaaan bahagia, sedih, ataupun luka
Ketahuilah,
Hujan tidak pernah mengeluh meski ia berkali-kali jatuh
Ia
rela melakukannya untuk memberikan cintanya pada Bumi.
Mengairi sawah,
memberi minum para ternak, menyuburkan tanaman, memberi habitat kehidupan pada
makhluk air,
Indah sekali bukan?
Lalu kemudian dari
cinta sang hujan,
Bumi memberikan bunga-bunga
indah dari tanahnya,
seolah balasan dari
cinta sang hujan, “ini untukmu”
Lalu Kamu?
Cinta seperti apa
yang kamu punya?
Berharap orang yang
kamu cintai membalas cintamu.
Kalau dia merasakan
hal yang sama mungkin itu tak jadi masalah.
Jikalau dia merasakan
sebaliknya, lalu kamu mau apa?
Mencintai juga
berarti mengambil resiko untuk tak dicintai.
Cinta tak bisa
dipaksakan!
Dia memiih bukan
dipilih.
Memaksakan sama saja
melihat diri sendiri hancur berkeping-keping.
Dan seterusnya, kamu
berharap, berharap, dan berharap.
Berusaha menembus
hatinya yang sekeras baja agar berlubang.
Sampai kapan!?
Sampai matamu lelah
mengeja barisan keangkuhan hatinya dan bergelut dengan kesabaranmu sendiri?
Mungkin jika itu batu
bisa kau lubangi dengan tetesan air,
Walaupun memakan
waktu ratusan tahun.
Tapi, jika itu baja!?
Ia hanya akan
berkarat lalu rusak tak berguna lagi.
Hakikat mencintai
adalah memberi tanpa pamrih, tanpa alasan, tanpa ingin dibalas.
Kamu sama saja egois,
jika mengharapkan orang yang tidak mencintaimu melakukan hal yang sama
kepadamu.
Lihat, kan, hujan
sore tadi?
Dia tidak meminta
balasan apa-apa.
Tapi kemudian sang
bunga yang kau tanam beberapa bulan lalu memekarkan bunganya.
Cinta itu memberi
tanpa berpamrih.
Cintailah seseorang
yang menginginkanmu,
Yang berharap bisa
menjalani sisa hidupnya bersamamu,
Yang mau membantu
mewujudkan cita-citamu,
Yang berbicara
denganmu setelah pertengkaran,
Yang mampu merubah
mood jelekmu setelah kamu memiliki hari yang buruk
Yang meluangkan waktu
sibuknya hanya untuk berkabar denganmu.
Lalu tertawa pada
leluconmu yang sama sekali tak lucu, karena dia bahagia hanya dengan
mendengarmu berbicara
Cinta
itu saling menghargai dan saling ingin memiliki.
Dan
aku, cukup bahagia dengan mencintaimu.
Dea
yusuf,
Sumberjaya,
25 April 2016
Adakah Kamu Mengerti?
Ketika itu..
Aku melihat sesuatu di matamu.
Ada kisah terlukis seperti sudah lalu, sekilas, ya hanya sekilas.
Aku percaya pada takdir,
Entah dengan mu atau tidak, semua ada cara dimana kita akan bersatu atau terpisah.
Kamu bilang, semoga Tuhan menakdirkan nisan kita berdekatan.
Aku terenyuh, Aku begitu sangat menanti saat-saat dimana kita dipersatukan.
Saat kita membuat kembali kesepakatan seumur hidup.
Merajut sebuah mimpi yang bahkan kita masih belum rangkai.
Menerka-nerka hal menyenangkan apa yang akan kita lakukan nanti.
Namun,
Saat perpisahan menghalangi jalan kita.
Dan kemudian di persimpangan itu kita berpisah.
Bersabarlah cintaku.
Mungkin akan terasa sakit, tapi aku yakin pasti sesuatu lebih indah ada di depan kita.
Jika suatu hari ku temukan kamu dengan seseorang,
Ahh.. betapa beruntungnya dia.
Aku bahagia bisa mengenal dan punya cerita bersamamu.
Adakah kamu mengerti?
Dhea x. Near
14 Agustus 2014
Kita yang Terlupakan.
Hingga kita tiba pada saat dimana semua berubah.
Orang-orang tak lagi sama.
Wajah mereka berubah,
Hati mereka berubah.
Lalu perlahan kita terlupakan,
Terlupakan masa lalu,
Terlupakan keakraban,
Semua kembali bisu,
Tak ada cerita setelah itu.
Seolah tak pernah berjabat tangan sebelumnya lalu saling menyebutkan nama.
Kenakalan dan candaan tidak lucu yang sering terlontar.
Perlahan menguning karena korosi di atas buku cerita.
Sering kali aku melihatnya digerogoti tikus kecil yang membuat sarang di rumahku.
Semua berdebu, terlalu lama beku.
Terlalu lama dibiarkan, hingga tak tahu harus diapakan.
Bisa saja mati rasa, seperti kesemutan.
Lalu kemudian menyakitkan.
Dan kita kembali mencari sesuatu yang harus kita ingat.
Mencari mereka yang tak pernah terlupakan.
Mencari mereka yang tidak akan lupa saat pertama berjabat tangan dan saling menyebutkan nama.
Mencari mereka yang mengingat siapa kita dan alasan kita untuk tetap pada jalur seharusnya.
Dan kemudian tak akan terlupakan.
27 Januari 2014
Dhea X. Near